Seri Kunjungan Dosen DTK (Tim Kerjasama DOE-NUFFIC) ke Kota Delft, Belanda (Acara Hari ke-5)

Seri Kunjungan Dosen DTK (Tim Kerjasama DOE-NUFFIC) ke Kota Delft, Belanda (Acara Hari ke-5)

Kerjasama DTK-NUFFIC tidak hanya bermanfaat untuk penyempurnaan Kurikulum Baru (2018/2023) dan materi kuliah bagi DTK – ITS. Institusi terkait, Deltares, dengan Mega Proyek nya “Sandmotor (Sand Engine)” menjadi contoh nyata dimana banyak hal dapat dipelajari tentang persoalan dan solusi di bidang Teknik Pantai, untuk peningkatan mutu proses belajar-mengajar dan penelitian bagi DTK-ITS.

DTKNEWS-Agenda hari ke-5 kunjungan adalah ke institusi terkait bidang Teknik Pantai bernama Deltares pada pagi hari, Senin 02 Juli 2018 yang kemudian sesi siangnya dilanjutkan kunjungan ke lapangan di pantai dimana proyek Sand Motor/engine dilaksanakan. Prof Dano Roelvink dari IHE/Deltares menjadi pemandu utama selama kunjungan ke Deltares ini.

Delegasi DTK-ITS di Deltares, Delft, Belanda (Dari kanan: Pak Bert, Prof. Dano. R).

Acara di Deltares pertama dilaksanakan di sebuah ruang rapat dengan desain sederhana namun sangat fungsional, modern dan elegan. Sebagai host, Prof. Dano membuka acara sekaligus memberikan pengantar singkat tentang agenda acara hari ini. Selengkapnya terdiri dari pemaparan tentang beberapa aktivitas yang telah dilakukan oleh Deltares terkait pekerjaan rekayasa wilayah pantai. Pertama dari staff muda Deltares, Ir. Bob P. Smits, M.Sc yang mempresentasikan “Building-with-Nature Project in Demak, Indonesia”. Bob dan timnya telah mengamati erosi pantai di sekitar Demak dan Semarang dengan semakin mundurnya garis pantai secara signifikan dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan makin berkurangnya tanaman bakau (mangrove) sebagai pelindung pantai alami akibat penebangan yang tidak bijaksana. Sehingga gelombang, arus dan angin laut akhirnya dapat secara langsung mengikis pantai. Untuk itu dilakukan teknik restorasi dengan konsep alami (building-with-nature) guna mengembalikan garis pantai pada kondisi yang lebih baik/seimbang sebagai sebuah solusi ramah lingkungan yang tepat, yaitu dengan cara penanaman kembali pohon bakau untuk menggantikan bakau-bakau yang sudah hilang. Caranya dengan membuat tembok sekitar pantai dengan bahan kayu dan ranting yang ditumpuk hingga ketinggian tertentu untuk melindungi area di belakangnya dimana anak pohon bakau ditanam kembali. Setelah tanaman bakau hidup membesar, maka proses dapat diulang kembali secara bertahap untuk area di depannya, hingga didapat populasi bakau yang cukup serta bertambahnya garis pantai baru.

Pemaparan materi oleh Ir. Bob P. Smits, M.Sc dari Deltares, Delft tentang konsep Building-with-Nature untuk restorasi pantai yang tererosi.

Paparan kedua diberikan oleh Ir. Pieter Koen Tonnon tentang “Design, predictions and monitoring of the Sand Engine mega nourishment”. Prinsip dari konsep ini adalah teknik menyebar material sedimen pantai (pasir) yang ditimbun secara sengaja di suatu tempat tertentu di sekitar pantai dengan bantuan tenaga alam berupa gelombang, arus dan angin yang terjadi di lokasi tersebut. Sehingga akhirnya material sedimen tersebut tersebar secara bertahap ke tempat-tempat yang diprediksikan untuk menambah lebar garis pantai. Sehingga diartikan bahwa dalam penyebarannya pasir digerakkan oleh tenaga alam sebagai motor/engine-nya, bersifat alamiah.

Pemaparan materi ke-2 oleh Ir. Pieter Koen Tonnon dari Deltares, Delft tentang konsep Sand motor untuk memperlebar garis pantai baru secara alamiah.

Mekanisme ini menjadi sangat alami sehingga akhirnya murah dibanding kalau harus memindahkan material sedimen tersebut secara manual ke tempat-tempat lain yang diinginkan dengan menggunakan peralatan berat mekanis. Konsep ini sudah diterapkan di suatu perairan pantai di wilayah Denhaag, Belanda.  Menurut Pieter, keberhasilan konsep ini sangat tergantung dari ketelitian disain dan keakuratan data karakteristik gelombang, arus dan anginnya.

Penjelasan Prof. Dano tentang metode baru untuk pemodelan garis pantai yang diterapkan dalam proyek Sandmotor di pantai Delfland.

Acara presentasi diakhiri dengan paparan ke-3 dari Prof. Dano tentang “New approach to coastline modeling with application to Sandmotor”. Secara singkat Prof. Dano menjelaskan bahwa metode modelingnya ini mengasumsikan garis pantai seperti seutas tali yang sangat fleksibel dan dinamis dalam perubahannya guna memprediksi perubahan garis pantai waktu demi waktu. Dengan pendekatan ini pemodelan bisa menjadi lebih sederhana dan tidak terlalu membutuhkan memori komputer yang sangat besar seperti lazimnya diperlukan oleh metode pemodelan umumnya.

Selama presentasi, kita diperbolehkan bertanya atau menanggapi materi yang dipaparkan sehingga bisa terjadi diskusi singkat, karena memang sesi presentasi ini lebih bersifat informatif saja, bukan sebagi forum diskusi ilmiah yang mendalam. Namun kita cukup puas dengan ilmu baru dan penjelasan yang disampaikan.

Setelah sesi presentasi, acara kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Laboratorium Hidrolika yang dimiliki oleh Deltares dengan dipimpin oleh Prof. Dano. Karena waktu cukup terbatas, maka sambil menyusuri gedung laboratorium, Prof. Dano menjelaskan beberapa fasilitas yang dilalui yang nampak. Beberapa persiapan model dan fasilitas nampak sedang dikerjakan untuk beberapa proyek.

Fasilitas Laboratorium Hidrolika Deltares di Delft.

Acara mengunjungi laboratorium berakhir menjelang makan siang. Kami kemudian makan siang bersama di kantin Deltares.  Segera setelah makan siang, kami berdelapan menuju ke sebuah pantai di Denhaag di mana proyek Sand motor dilaksanakan. Perjalan ditempuh sekitar 1 jam dengan mengendara mobil

Mengunjungi tempat mega proyek Sandmotor di pantai Delfland.

Proyek sand motor atau sand engine ini dimulai antara Maret – Nopember 2011 oleh Rijkswaterstaat bersama pemerintah provinsi Holland Selatan (Zuid-Holland) dengan membangun timbunan pasir buatan di Pantai Delfland sekitar desa Ter Heijde di kota Denhaag. Dimensinya 1 km ke arah pantai dan 2 km memanjang sejajar garis pantai.

(a) Bentuk timbunan Sand Engine pada Juli 2011 segera setelah dibangun, (b) Bentuk Sand Engine setelah mengalami proses penyebaran sedimennya oleh gelombang dan arus laut.

Proyek ini dilatarbelakangi kebutuhan pemerintah Belanda yang harus selalu menjaga wilayah bagian baratnya (yang berupa pantai) agar tidak tenggelam oleh air laut. Untuk itu selama ini tiap 5 tahun sekali Rijkswaterstaat harus membuat timbunan pasir di pantai untuk beberapa wilayah yang tererosi. Namun lama-lama terpikirkan, apakah tidak ada cara perlindungan yang lebih dijamin keberlanjutannya dalam waktu lebih lama dan bersifat lebih alami?

Proyek Sand Motor ini merupakan salah satu proyek yang benar-benar memanfaatkan alam untuk membangun wilayah (memperlebar pantai) guna kepentingan manusia, yaitu konsep building with nature. Jika proyek ini benar-benar berhasil seperti yang diharapkan dan diperkirakan, maka pemerintah Belanda tidak perlu lagi menguruk Pantai Delfland secara manual untuk 20 tahun ke depan (@RWP_Delft-July 2018).

Note:Untuk info lebih detil, bagi yang berminat lebih dalam tentang Deltares dan Sandmotor dapat mengakses melalui tautan berikut:

  • Deltares: https://www.deltares.nl/en/
  • Sandmotor: http://www.dezandmotor.nl/en/the-sand-motor/introduction/
Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *